Lagu ‘Stasion Balapan’, yang dipopulerkan oleh Didi Kempot dalam nuansa campur sari (Sebuah pola ritme dangdut yang dicampur dengan melodi lagu Jawa), tak hanya terkenal diseluruh pelosok tanah air, tapi juga sampai ke negeri jiran, Malaysia, Brunai, Singapura, utamanya Suriname.

“Di Suriname lebih banyak penggemar lagu-lagu saya, karena komunitas masyarakat asal Jawa sangat besar jumlahnya disana. Sayangnya, penayangan lagu lagu saya disana belum mendapat ganjaran royalti,” terang Didi Kempot, saat peluncuran album terbaru pedangdut Connie Nurlita, dibawah bendera Nagaswara.

Setelah lama vakum, pelantun lagu lawas ‘Cinta Karet’ era 90-an, Connie Nurlita, akhirnya kembali menegaskan eksistensinya diranah musik Dangdut yang digelutinya belasan tahun silam, dengan merilis album baru bertajuk nama dirinya sendiri, ‘Connie Nurlita’.

Gadis dengan kultur Manado ini, dengan penuh rasa percaya diri, menerima tantangan Nagaswara dan Didi Kempot, untuk kolaborasi dalam lagu ‘Stasion Balapan’, yang diciptakan Didi saat masih menjadi pengamen di Solo, kota kelahirannya.

“Kolaborasi ini menantang saya yang terbiasa menggunakan cengkok pop dan dangdut. Dalam lagu Stasion Balapan saya harus bernyanyi dalam bahasa Jawa dengan dialek yang sangat kental. Bersyukur Mas Didi mau memperbaiki jika ada kesalahan saya dalam dialek Jawa,” papar Connie yang melantunkan 6 lagu dalam album barunya tersebut.

Lebih jauh Connie mengatakan bahwa menyanyi dalam bahasa Jawa baginya tidak terlalu sulit, karena ayahnya berdarah Jawa, meski ibunya berdarah Manado.

Kerja keras Connie untuk menaklukan lagu ‘Stasion Balapan’ mendapat pujian dari Didi Kempot, yang kebagian menyanyi 4 lagu dalam album Connie Nurlita tersebut.

“Saya mengakui kemampuan vokal Mbak Connie. Saya yakin sebelum rekaman, dia sudah aering bawain lagu saya. Makanya saya hanya membantu memperbaiki sedikit saja, seperti cara penyebutan huruf “O” dalam dialek Jawa yang berbeda dengan dialek Manado,” ungkap Didi Kempot yang setiap bulannya masih menerima pembayaran royalti dari KCI.

Merilis lagu Dangdut pada bulan puasa, bukan hal yang baru bagi pihak Nagaswara. Menurut Rahayu Kertawiguna, selaku Eksekutif Produser, hal ini tiap tahun dilakukannya.

“Kami juga merilis album religi setiap Bulan Suci Ramadhan. Namun, lagu dangdut juga kami rilis, sebagai selingan yang menyenangkan bagi masyarakat ditengah dominasi musik religi,” tandas Rahayu, sebari menyebutkan bahwa secara bisnis, penetrasi lagu dangdut dimasyarakat mencapai angka lebih dari 30%, dari total penjualan album di Indonesia.

“Apalagi selain lagu dangdut juga ada musik campur sarinya, ditambah lagi dengan krhadiran Didi Kempot. Saya yakin masyarakat akan menerima alb ini,” tambah Rahayu.

Selain ‘Stasion Balapan’, lagu yang paling diandalkan sebagai single hit pertama dari album Connie Nurlita tersebut adalah lagu anyar bertajuk ‘Baru 6 Bulan’, ciptaan Wahyu WHL yang bernuansa riang dengan lirik nan menggoda.

“Judul lagunya juga bikin penasaran bagi yang baru mendengarnya. Semoga ini bisa mengobati kerinduan penggemar saya yang menyukai musik dangdut koplo,” jelas Connie yamg pernah menjadi pasangan duet Meggy Z ini.

Kekuatan lain dari lagi ‘Baru 6 Bulan’ ini, menurut penciptanya, Wahyu WHL, terletak pada lirik yang menggelitik. Setiap bait diawali dengan kata bulan, sebanyak 6 bulan.

“Lagunya itu bercerita tentang sepasang kekasih yang menjalin hubungan cuma 6 bulan, dari mulai berkenalan, PDKT, pacaran sampai putus,” sambung Wahyu.

Selain Baru 6 bulan, sederetan lagu lainnya adalah ‘Anak Medan’, ‘Balada Pelaut’ (Manado), ‘Cinta Karet’, ‘Polo Pakita’ (Manado), Stasiun Balapan. Sementara Didi Kempot mendendangkan ‘Dalan Anyar’, ‘Dudu Jodone,’ ‘Pantai Klayar’, dan ‘Suket Teki’, lagu yang sangat terkenal di Suriname. (Buddy ACe)