KOLONODALE – Seorang pria warga Kampung Bugis Kelurahan Kolonodale, Kecamatan Petasia, Morowali Utara kepergok berduaan dengan perempuan pemilik kos, Jumat (26/5/2017) siang. Rupanya, mereka sedang berbagi curahan hati ditemani shabu lengkap dengan alat hisapnya.
Kejadian tersebut berawal dari razia minuman keras dan kos-kosan di tiga kelurahan dalam wilayah kecamatan Petasia. Operasi gabungan melibatkan TNI, Polri dan Satpol PP ini diprakarsai Kepolisian Sektor Petasia. Tujuannya untuk menjaga Kamtibmas jelang bulan Ramadhan 1438 Hijriah.
“Razia ini dalam rangka cipta kondisi jelang bulan puasa. Sengaja dilaksanakan mendadak guna efektifnya giat kami,” kata Kapolsek Dedy.
Dalam razia itu, petugas melakukan rasia pada sejumlah kios dan kos-kosan. Alhasil, polisi menyita 39 bungkus Cap Tikus 39, 2 botol Vodka dan 2 botol Whisky.
Kejadian tak terduga selanjutnya terjadi saat petugas mendatangi sebuah kos-kosan di lingkungan Gunung Radio, Kelurahan Bahontula sekira pukul 15:30 WITA.
Di salah satu kamar kos itu, seorang pria bernama Anhar (32) warga Kampung Bugis, Kolonodale kepergok sedang berduaan dengan pemilik kos yang akrab disapa Bunda. Perempuan ini diketahui adalah ASN salah satu OPD di lingkup Pemkab Morowali Utara.

Setelah digeledah, petugas menemukan 1 bungkusan plastik bening berisi serbuk diduga Shabu, uang Rp700 ribu, sebuah handphone, korek api serta bong. Kedua orang itu lalu digiring ke Mapolsek Petasia.

Barang bukti yang didapatkan saat razia oleh petugas Polsek Petasia. (foto: Ilo)

Kepada polisi dan wartawan di Mapolsek Petasia, Bunda mengaku kedatangan Anhar untuk menemui anak buahnya yang kos di tempat itu. Kebetulan anak buah pria berpostur besar itu sudah menunggak sewa kos.

“Dia (Anhar) curhat. Tapi kami memang dalam kos yang pintunya tertutup,” kata Bunda.
Dia juga mengaku tidak tahu kalau Anhar adalah pengguna Narkoba. Karena itu dia mau mendengar keluhan Anhar sehingga anak buahnya belum membayar sewa kosnya.
“Saya tidak tau ada Shabu. Tolong saya,” ujar Bunda memelas.
Pengakuan Bunda hampir mirip dengan Anhar. Bedanya dia mengaku Shabu itu dibeli dengan harga Rp200 ribu.

“Itu (Shabu) hanya paket duaratus ribu. Kalau sudah satu gram pasti saya bukan kategori pengguna lagi,” aku Anhar yang diduga masih dalam pengaruh barang haram itu.

Kapolsek Petasia, AKP Deddy Suparman menyatakan kasus ini diproses lanjut. Termasuk melakukan pendalaman apakah Bunda juga mnggunakan Shabu atau tidak.
“Kasus ini pasti kami limpahkan ke SatNarkoba Polres Morowali,” tegas Dedy usai razia tersebut.
Sebelumnya, petugas gabungan berkumpul di Mapolsek Petasia. Apel ini dipimpin Kepala Polsek Petasia AKP Dedy Suparman. Petugas kemudian dibagi dalam dua Tim dan dilarang membawa telepon seluler.
Selain Dedy Suparman, dalam pelaksanaannya petugas razia juga didampingi Danramil 1311-03 Petasia Kapten Inf Hamzah Somang dan Kasat Pol-PP Morut Viktor Tamehi.
Sementara Lurah Kolonodale, Bahontula dan Bahoue dilibatkan sesuai wilayah kerja mereka.
Soal penjualan Miras, Danramil Petasia memastikan para pelakunya tidak akan jera jika hanya disanksi ringan. Namun kendalanya karena Perda Morut tentang Miras saat ini belum disahkan.
“Di Sulawesi Selatan sanksi penjual miras tanpa izin adalah kurungan badan. Itu bisa dilakukan karena didukung Perda yang tegas,” ungkap Hamzah.
Viktor Tamehi juga sepakat bahwa aturan tegas tentang peredaran miras harus segera dibuat dalam prodak hukum.
“Perda miras itu masih dibahas. Mungkin tahun ini sudah bisa disahkan,” singkat Viktor.
Terkait Kamtibmas, Lurah Bahoue Icbal Saing memastikan kondisinya masih aman terkendali. Hal ini berkat bantuan petugas Bhabinkamtibmas setempat.
Pun demikian, Icbal menyebut lingkungan III Papoji adalah daerah paling rawan dari peredaran narkoba di wilayah administratifnya.
“Karena itu saya ingin mengaktifkan pengurus RT dan RW guna membantu Pemerintah Kelurahan melakukan kontrol lingkungan,” sebut Icbal. (Ilo)