Jenasah almarhumah dr. Lebrin Agustien Tamaela (dr. Dee) di Rumah Duka RS PGI Cikini Jakarta. (foto: PPGMKI & Senior – InfoGMKI / WA)

Mantan Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ke-2, dr. Lebrien Agustine Tamaela menghembuskan nafas terakhir di RS PGI Cikini Jakarta, Selasa (20/6/2017). Ketua Umum wanita pertama tersebut merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan dikenal sebagai sosok wanita yang tegar dan tidak pernah mengejar popularitas. Jenasahnya disemayamkan di Rumah Duka RS PGI Cikini, pemakaman akan dilakukan pada Kamis, 22 Juni 2017, di TPU Tanah Kusir Jakarta Selatan. Berikut tulisan Rudi Fofid Alifuru Togutil, wartawan Suara Maluku pada Maluku online, Koran Digital Komunitas, 26 November 2011.

Dee atau Deetje bernama lengkap Lebrin Agustien Tamaela. Hidup pada zaman Belanda, Jepang dan semua era presiden pasca kemerdekaan Indonesia. Kepeloporannya luar biasa, namun tak banyak dikenal. Bisa dimaklumi sebab perempuan tegar namun lembut ini tak pernah mengejar popularitas, kendati datang dari keluarga yang heroik.

Ayahnya dr Lodwijk Tamaela, pejuang terkenal dari organisasi Sarekat Ambon dan Jong Ambon. Ibunya Mien Jacomina Pattiradjawane. Kakaknya Leonardine Hendriette Tamaela, diabadikan sastrawan Chairil Anwar dalam puisi Cerita Buat Dien Tamaela.

Dee lahir di Malang, 21 Agustus 1926. Ketika berusia 12 tahun, ayahnya meninggal dalam kecelakaan lalulintas di Mojokerto, 23 Juli 1938. Ibunda Mien Pattiradjawane lantas menjadi orang tua tunggal bagi kedua putrinya.

Dee sempat belajar di Christelijke Europeesche Lagere School (ELS) Mojokerto tahun 1932-1938. Ketika ayahnya meninggal, ibunda Mien membawa kedua putri ke Yogyakarta. Di sana ada Oom Bram Matulessy dan Tante Putih Pattiradjawane yang mengelola panti asuhan dan asrama anak yatim. Dee menyelesaikan pendidikan di ELS Yogyakarta tahun 1939.

Dari Yogyakarta, Dee melanjutkan pendidikan di Christelijke Hogere Burger School (HBS) Jakarta. Di kelas tiga, sekolahnya terputus sebab pecah perang dunia kedua, 1942. Jepang menduduki tanah air.

Beruntung, tahun yang sama, di Manggarai Jakarta ada SMP sehingga Dee menyelesaikan studi di sana, dan lanjut ke Sekolah Menengah Tinggi (SMT) tahun 1942-1946. Dee bercita-cita menjadi dokter, sehingga dia pun masuk Perguruan Tinggi Kedokteran Republik Indonesia (1946-1949). Saat inilah, terjadi merger dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, sehingga Dee tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran UI tahun 1950-1956.

Ketika baru tingkat pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dee dkk sering berkumpul di sebuah rumah di Prapatan 10. Di tempat ini para aktivis asal Maluku sering berkumpul. Mereka terlibat dalam diskusi tentang situasi kebangsaan.

Sebuah peristiwa yang cukup berat yakni adanya antipati penduduk Jakarta terhadap orang Maluku pasca Proklamasi 17 Agustus 1945. Banyaknya orang Maluku yang bertugas sebagai tentara KNIL telah melukai hati banyak penduduk Jakarta. Sebab itu, mereka meragukan nasionalisme orang Maluku. Tokoh-tokoh Maluku cukup dibuat pusing, bagaimana meyakinkan warga Jakarta tentang komitmen nasionalisme orang Maluku.

Serangan terhadap orang Maluku makin serius bahkan sudah jatuh korban. Mr Johannes Latuharhary yang menjadi Gubernur Maluku lantas meminta bantuan para aktivis dari Prapatan 10. Dee dkk lantas menggulirkan ide untuk tampil di RRI Jakarta.

Alhasil, setiap pekan, para pemuda dan mahasiswa asal Maluku mengisi acara budaya di RRI. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan gaya Maluku. Boetje Tahalele membuat aransemen lagu, Dien Tamaela bermain piano, sedangkan Dee dkk sebagai kelompok penyanyi. Strategi ini ternyata jitu. Perlahan-lahan, kebencian orang Jakarta terhadap orang Maluku terhapus. Orang Maluku bisa kembali beraktivitas secara normal di ibukota.

Sebagai aktivis, Dee mendapat kesempatan mengikuti kegiatan internasional. Pada 22-31 Juli 1947, Dee bersama Abineno, Marantika dkk mengikuti Kongres Pemuda Kristen se-Dunia ke-2 di Oslo Norwegia.

Pada 9 Februari 1950, setelah melalui proses panjang penyatuan Perhimpunan Mahasiswa Kristen Indonesia (PMKI) dan Christelijke Studenten Vereeniging (CSV), lahirlah Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Untuk pertama kalinya organisasi ini diketuai J. Leimena dan Pelaksana O. E. Engelan, sampai pelaksanaan kongres yang pertama.

Kongres GMKI pertama tahun 1951 memilih J. E. Siregar sebagai ketua umum. Kongres kedua di Surabaya tahun 1953 kemudian memilih Dee Tamaela sebagai ketua umum. Inilah untuk pertama kali seorang perempuan memimpin PB GMKI. Dee menjabat ketua umum PB GMKI selama setahun. Jabatannya kemudian kembali lagi kepada J. E. Siregar, karena kesibukan sebagai mahasiswa kedokteran.

Ketika menyandang gelar dokter tahun 1956, setahun kemudian Dee ditugaskan di RSU Kudamati Ambon. Dokter muda ini menghuni sebuah rumah di Lorong Maranatha Ambon. Karena di Ambon belum ada cabang GMKI, Dee menghimpun kawan-kawan aktivis seperti Cois Nikijuluw, J. M. E. Soukotta, Nico Lailossa, dll. Mereka lantas memilih pengurus pertama sekaligus menandai berdirinya GMKI Cabang Ambon, 5 Oktober 1957.

Tahun 1959, Dokter Dee dipercayakan sebagai penjabat Kepala RSU Ambon. Jabatan itu diemban selama setahun. Ketika ditarik kembali ke Jakarta tahun 1960, Dee ditempatkan sebagai asisten ahli pada bagian anak IKA FK UI dan RSCM. Tiga tahun kemudian, datanglah kesempatan belajar pasca sarjana di Universitas Kinderklinik Munchen, Jerman. Studinya diselesaikan dalam tiga tahun, 1963-1966. Sekembalinya dari Jerman, Dee ditempatkan pada bagian radiologi anak FK UI. Tahun 1967, dipercaya sebagai Kepala Sub Bagian Radiologi FK UI.

Dee pernah menjabat ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jakarta tahun 1971-1974. Sebelum pensiun dan terlibat dalam pekerjaan sosial, ia masih sempat menjadi konselor bagi mahasiswa UI tahun 1972-1975.

Riwayat Dee sejak lahir, masa kanak-kanak, remaja, menjadi aktivis, sebagai dokter hingga pensiun, seluruhnya masih sempat disaksikan ibunda Mien Pattiradjawane. Sang ibu baru menghembuskan nafas terakhir pada 28 Oktober 1996 dalam usia 99 tahun.

Dee menulis beberapa judul buku, membuka praktik dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, termasuk recovery Maluku pasca konflik. Bahkan sejak 1972, ia sudah terlibat dalam Yayasan Dana Beasiswa Maluku yang digagas HM Poetiray.

Perempuan bersahaja, lembut, namun tegas dan penuh disiplin ini memilih hidup membujang. Usianya kini 85 tahun namun wajahnya tetap berseri. Hari-harinya tenang di Apartemen Eksekutif Menteng Jakarta Pusat.

Oma Dee, begitulah ia dipanggil para cucu dari saudara-saudara sepupu. Ketika ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu, ia masih bercerita tentang pengalaman tahun 1947 saat berjumpa dengan Chairil Anwar, sang penyair besar Indonesia.

“Saya bertemu di sebuah toko buku di Jakarta. Seorang kawan memperkenalkan, bahwa inilah penyair yang menulis puisi Cerita Buat Dien Tamaela. Saya menyalaminya tapi sungguh menakutkan. Matanya merah seperti penjahat dan rambut gondrong seperti tidak mandi,” ujarnya.

Perjumpaan pertama dengan Chairil Anwar tersebut, ternyata juga menjadi pertemuan terakhir. Sebab Chairil kemudian menghembuskan nafas terakhir dalam usia muda, hanya selisih dua tahun dengan sahabatnya Dien Tamaela. Walau Chairil adalah sosok menakutkan, Oma Dee menghormati karya sang penyair. Ia menyimpan terjemahan puisi tersebut dalam berbagai bahasa.

Pada bulan Agustus 2011, keluarganya menyiapkan sebuah perayaan ulang tahun ke-85 bagi Oma Dee. Ada presenter kuliner di TV Bara Muskitta, jurnalis Meutia Muskitta, tokoh perempuan Ny Mansye Muskitta dan keluarga besarnya. Dee nampak penuh haru dan bahagia. Perempuan di usia senja ini tetap sehat, anggun dan menyimpan banyak riwayat.

“Semua karena kuasa Tuhan jua,” ujarnya selalu.

 

(Rudi Fofid/Suara Maluku)