Ritual mendatangkan arwah dilakukan dengan beragam cara, salah satu yang paling fenomenal dan melegenda, melalui media Boneka Jailangkung. Dan kisah ini berhasil dikemas dalam film ‘Jailangkung’ ditahun 2001 silam.

Kali ini, Jailangkung digarap oleh 2 sutradara spesialis film horor, Jose Poernomo dan Rizal Mantovani, dan akan beredar diseluruh Bioskop XXI, bertepatan dengan Hari Idul Fitri, 25 Juni mendatang.

“Jika film Jailangkung pertama, menggunakan kalimat ‘Datang tak dijemput, pulang tak diantar’, maka trailer kali ini, ritualnya adalah ‘Datang gendong, pulang bopong’. Karena inilah sesungguhnya ritual asli pemanggilan boneka Jailangkung yang dipercaya masyarakat Jawa. Ini bakal jadi kado lebaran yang paling menghibur sekaligus mendebarkan,” papar Jose Poernomo, yang dikenal sebagai sutradara pertama yang menggunakan narasi dalam film bergenre horor di Indonesia, saat rilis Trailer Jailangkung di XXI, Plaza Indonesia, Jakarta (30/05).

Jose Poernomo sejak 2001, sukses membungkus kisah legenda Jailangkung, yang kemudian menjadi standar film horor nasional.

“Boneka Jailangkung yang dibuat dari kayu yang disilangkan, ditambah kain putih dan rambut, adalah karakter Jailangkung yang dibuat oleh Rizal Mantovani. Ini sukses, bahkan menjadi standar boneka Jailangkung sampai sekarang,” terang Jose Poernomo.

Tapi dalam Jailangkung kali ini, menurut Jose, rancangan bonekanya sedikit berbeda. Tepatnya lebih berkelas.

“Saya membayangkan jika keluarga kerajaan memainkan Jailangkung pasti bentuknya tak sama dengan yang digunakan oleh masyarakat umum. Ada ukiran, ada sentuhan emas dan karakter yang mengekspresikan kalangan atas,” ungkap Jose Poernomo, yang menegaskan berkali-kali, bahwa inilah film dengan biaya produksi paling mahal yang pernah dilakukannya.

Terbukti film terbaru Jailangkung yang diproduseri oleh Sukhdev Singh & Wicky V. Olindo dibawah bendera Screenplay Films dan Legacy Pictures ini, menyajikan visual yang memukau. Sebuah danau ditengah pulau, hutan nan lebat yang tak pernah terlihat dalam film lainnya, lokasi dengan set rumah klasik megah serta pengunaan sea plane (pesawat air) yang juga baru kali ini terdapat dalam film Indonesia.

“Kami beruntung, pihak produser mau membiayai ide kreatif kami yang terbilang paling mahal dalam sejarah film horor di Indonesia. Semua ini demi kepuasaan penonton yang selama ini mendukung karya kami,” ungkap Jose yang kolaborasi bersama Sutradara Rizal Mantovani dalam mewujudkan film horor yang lebih grandae.

Senada dengan Jose, penulis skenario, Baskoro yang sudah menulis 16 skenario film dan 10 diantaranya bergenre horor, mengakui bahwa inilah skenario paling menantang yang pernah dilakukannya.

“Setiap menulis naskah, saya selalu merinding dan terbawa suasana horor,” aku Baskoro.

Dan yang paling merasakan suasana horor tentu saja Jefri Nichol, bintang utama pria. Dalam filmnya yang ke-4 ini, ia berperan sebagai Rama.

“Sejak kecil saya ini penakut. Jadi setiap melihat cast hantu yang baru selesai di make up saja, saya takut banget,” aku Jefri, pemuda berdarah Padang, kelahiran 15 Januari 1999.

Dikisahkan, Rama harus membantu 3 orang gadis sahabatnya: Bella (Amanda Rawles), Angel (Hanna Al Rashid), Tasya (Gsbriella Quinlyn), yang ingin menguak misteri ayah mereka (Lukman Sardi) yang mengalami koma secara misterius melalui cara ritual Boneka Jailangkung.

Sementara itu, Lukman Sardi mengemukakan bahwa Jailangkung adalah film yang sangat menarik sekaligus menantang kemampuan aktingnya.

“Dari sekian banyak tokoh yang saya perankan dalam film, menjadi sosok yang koma secara misterius adalah pengalaman pertama yang mendebarkan,” jelas Lukman melengkapi testimoni tentang kekuatan film Jailangkung.

Boleh jadi inilah “Kado Lebaran” yang paling menghibur, sekaligus mendebarkan masyarakat Indonesia. (Buddy ACe)