Menjelang bulan Ramadan, istilah hilal sering terdengar. Biasanya, kita mengartikan hilal sebagai bulan sabit tipis penanda awal bulan dalam kalender Islam.

Namun, ternyata ada dua jenis hilal. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), mengungkapkan, ada hilal tua dan ada hilal muda.

Dua fenomena hilal itu menunjukkan perjalanan fase bulan, mulai dari bulan baru, sabit, separuh, purnama, hingga bulan mati.

Lantas, apa perbedaannya?

Thomas mengatakan hilal tua menjadi tanda akhir bulan sementara hilal muda tanda awal bulan.

Dalam konteks menjelang Ramadhan 2017, hilal tua terjadi pada Kamis (25/5/2017) menjelang matahari terbit.

“Kamis itu masih terlihat bulan sabit hingga menjelang matahari terbit,” kata Thomas saat dihubungi, Jumat (26/5/2017).

Setelah hilal atau bulan tua, datanglah bulan mati. Bulan mati terbaru terjadi pada Kamis (25/5/2017) malam kemarin.

Saat itu, tidak ada bulan terlihat sejak maghrib atau pukul 18.25 WIB hingga menjelang matahari terbit.

Hilal muda akan datang setelah bulan mati. Dalam konteks awal bulan puasa kali ini, hilal muda tampak sejak Jumat dini hari.

Jumat dini hari, hilal masih sangat tipis sehingga sulit diamati. Penentuan awal bulan dalam kalender Islam mensyaratkan adanya rukyat atau pengamatan langsung.

Oleh karena itu, penentuan awal bulan biasanya dilakukan dengan menggunakan hilal yang teramati saat senja.

Selain menjadi penanda dua hal berbeda, hilal tua dan muda juga berbeda karena lengkungannya.

Peneliti LAPAN Muhammad Zamzam Nurzaman mengatakan, dari bentuknya, lengkungan hilal tua berada di atas. Sementara hilal muda, berada sebaliknya.

“Hilal muda mengarah ke bawah lengkungannya,” kata Nurzaman. Saat ini, Nurzaman tengah melakukan pengamatan hilal di Tanjung Lesung, Banten.

SUMBER : Kompas.com