IMG_0073Keindahan Teluk Tomori sudah menjadi bahan gunjingan sejak jaman Indonesia belum merdeka. Tuan Francis Drake dengan kapalnya “The Golden Hind” yang berlabuh di salah satu pantai yang kini dikenal sebagai Teluk Tomori pada tahun 1580 paling tidak menjadi sebuah acuan bagaimana perairan di Teluk Tomori telah menjadi perbincangan dunia. Salah satu tempat wisata potensial dipesisir Pantai Teluk Tomori adalah air terjun Paka-Paka yang masuk dalam wilayah Desa Ganda-Ganda.

Ajakan berwisata ke Paka-Paka diterima Moriwana berasal dari salah satu warga Kolonodale. “Ayolah kita ke Paka-Paka. Tidak jauh koq, cuma 15 menit kita menyebrang naik perahu. Airnya dingin, suasananya masih alami, masih perawan, belum ada orang yang nakal ba coret-coret apalagi bikin macam-macam disitu,” ajak Yaristan Palesa.

Ajakan yang menggoda membuat pagi itu dengan mengajak keluarga, kami berada di Pelabuhan Kolonodale bersiap menyebrangi Teluk Tomori, setelah sebelumnya mampir di toko membeli air minenral dan sejumlah makanan ringan. “Te ada orang ba jual disana. Jadi ba beli memang pengalas perut, nanti keasikan bermain air bikin lapar perut,” ujar Yaristan.

IMG_0023Menggunakan perahu motor dengan kapasitas 20 penumpang dan mesin tempel berkekuatan 15 PK, kamipun mulai membelah lautan Teluk Tomori kearah Timur dari Pelabuhan Kolonodale Perjalanan diatas perahu motor di Teluk Tomori menimbulkan sensasi tersendiri. Perairan Teluk Tomori yang nyaris tanpa gelombang membuat perasaan ibarat berperahu dalam sebuah bak mandi raksasa. Perkiraan waktu tempuh hanya 15 menit ternyata tidak meleset. Belum puas menikmati keteduhan perairan Teluk Tomori, hamparan pasir di Pantai Paka-Paka telah menjemput kami. Ingin rasanya sejenak mandi-mandi dipantai, namun rasa penasaran menjumpai Air Terjun Paka-Paka lebih menggoda.

Setelah memakai sepatu khusus trakking, perjalanan menuju lokasi dilakukan. “Tidak jauh dan medan tidak berat. Biar cuma pake sendal saja, tetap cepat kita sampai,” kata Yaristan tersenyum.

Lagi-lagi ucapan Yaristan terbukti. yang dimaksud perjalanan ternyata tidak lebih dari berjalan diantara tanaman kebun penduduk Desa Ganda-Ganda. Hanya 5 menit kami berjalan, gemuruh air lamat-lamat mulai terdengar. Dan ternyata lokasinya memang sudah didepan mata. Pemandangan air terjun yang belum dijamah membentang didepan mata. Tumpukan kayu tidak beraturan membuat kami harus berhati-hati melangkah , termasuk memilih pijakan pada sejumlah batuan.

IMG-20160718-WA0081Kolam yang terlihat dibawah air terjun membuat tidak tahan rasanya jika untuk segera mencoba dinginnya air. Ternyata kolam yang terlihat, cukup untuk merendam badan. Jadilah tubuh ini dimanjakan berendam dan merasakan derasnya air yang meluncur dari atas sambil melupakan waktu. Kalau saja jari-jari ditangan dan kaki tidak berkerut dan bibir memucat sebagai tanda tubuh kedinginan, tidak ingin rasanya keluar dari rendaman air.

Setelah mengeringkan badan dan mengganti pakaian, barulah kami memperhatikan dengan seksama lokasi diseputar air terjun. “Seandainya beberapa tempat sebelum masuk kesini dibangun gazebo sebagai tempat istirahat dan tempat berjualan makanan dan minuman, lengkaplah sudah kenikmatan berwisata disini. Hanya perlu sedikit sentuhan saja, termasuk membuat jalur tracking masuk kesini,” kata salah seorang rekan yang ikut.

Penasaran ? Pastikan datang di Air terjun Paka-Paka jika suatu saat berada di Kolonodale, Morowali Utara. (teks dan foto : Refi)