Pengamatan hilal atau bulan sabit pertama dilakukan mulai siang sampai jelang petang hari ini, Jumat, 26 Mei 2017, untuk menentukan awal Ramadan 1428 H. Hal ini dilakukan berbagai institusi, ormas di berbagai wilayah di Indonesia.

Untuk mengamati hilal biasanya menggunakan berbagai perangkat dan alat, mulai dari yang tradisional sampai modern. Semua alat pada prinsipnya dipakai untuk menemukan atau melihat hilal.

Untuk alat tradisional, pengamat hilal atau perukyat menggunakan alat bantu yang disebut ‘gawang lokasi’. Alat ini merupa penanda yang terdiri dari dua batang kayu atau logam untuk mengkonsentrasikan titik fokus hilal. 

“Alat ‘gawang lokasi’ berguna untuk memfokuskan pengamat pada arah hilal yang sudah dihitung,” ujar Kepala Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin kepada VIVA.co.id, Jumat, 26 Mei 2017.

Sedangkan alat modern pengamatan hilal yaitu binokuler, teleskop, kamera perekam citra dan komputer pengolah citra. 

Fungsi alat modern itu, kata Thomas, untuk memperkuat, merekam cahaya hilal untuk diolah citranya dan ditingkatkan kontras hilalnya.

Alat modern itu membantu perukyat dalam pengamatan, sebab bentuk hilal sangat tipis, ujung tanduknya lebih tipis dari bagian tengahnya. Sehingga hilal bisa tampak seperti goresan cahaya yang sangat tipis.

Lingkungannya mengarah ke Matahari karena hilal merupakan bagian Bulan yang mendapatkan cahaya Matahari. Dengan kondisi mata telanjang, terutama bagi pemula, bakal susah melihatnya.

“Binokuler atau teleskop untuk memperkuat cahaya hilal. Kamera untuk merekam hilal diolah citranya dan ditingkatkan kontras hilalnya,” jelasnya.

Thomas menjelaskan, perkembangan teleskop dan binokuler membantu perukyat untuk mengenali hilal lebih baik lagi. Fungsi teleskop hanya mengumpulkan cahaya hilal yang redup.

Sedangkan perkembangan teknologi kamera digital (dan CCD) serta teknologi pengolah citra (image prosesing) berbasis komputer makin mempermudah pengamatan. Apalagi teleskopnya kini banyak yang sudah dilengkapi komputer untuk memudahkan pengarahan ke posisi hilal.

Kamera digital dan perangkat lunak pengolah citra bisa mempercepat menemukannya karena kontras hilal bisa sedikit ditingkatkan.

Sedangkan pengamatan hilal Observatorium Bosscha menggunakan alat modern, yakni teleskop portabel.

Tim pengamatan hilal Observatorium Bosscha, Zainuddin M. Arifin mengatakan, dalam pengamatan tim semuanya menggunakam teleskop portabel dengan bantuan kamera untuk pengambilan gambar hilal.

“Kamera yang ada, kami berikan tambahan filter pada panjang gelombang near infrared yang membuat kita dapat mengurangi cahaya Matahari,” ujarnya kepada VIVA.co.id. 

SUMBER: VIVA.co.id