KOLONODALE – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Morowali Utara mencabut status tanggap darurat bencana alam banjir Mamosalato dan Bungku Utara, Selasa (13/6/2017). Untuk 4 bulan selanjutnya, statusnya berubah ke pemulihan keaadan pasca bencana.

Hal itu disampaikan Kepala BPBD Morowali Utara Musda Guntur saat dihubungi moriwana.com melalui sambungan telepon, Selasa kemarin.

“Status tanggap darurat bencana alam selama 14 hari di Mamosalato dan Bungku Utara kita cabut hari ini,” kata Musda dari Jogjakarta.

Dia menjelaskan, bencana alam yang melanda Mamosalato dan Bungku Utara telah menyebabkan kerusakan infrakstruktur jalan dan jembatan serta kerugian usaha pertanian masyarakat, ternak dan permukiman penduduk terendam banjir.

Karena itu, status kebencanaan ini diubah dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan sarana dan prasarana vital melalui penanganan darurat bencana yang meliputi kebutuhan pangan, dan peralatan.

Selain itu, diperlukan juga pelayanan kesehatan dan psikososial. Penyediaan tempat hunian masyarakat sementara atau hunian tetap melalui penyediaan bahan bangunan serta pemulihan sarana dan prasarana vital sehingga kegiatan sosial ekonomi masyarakat dapat berfungsi dengan baik dan lancar.

“Status pemulihan ini diharap dapat rampung hingga batas waktunya 8 September 2017 mendatang,” tandasnya.

Terkait upaya pemulihan, Pemkab Morut sudah mengirim surat permohonan bantuan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

“Proposalnya sudah diantar Kadis PU Morut ke Jakarta. Semoga bisa ditanggapi,” harapnya.

Dia juga menyinggung upaya BPBD Morut yang telah menyediakan sarana penyeberangan berupa perahu rakit akibat putusnya jembatan di Desa Tanasumpu, Mamosalato. Pasalnya, warga mengeluh akibat upah yang terlalu tinggi.

“Saya harap pemerintah kecamatan bisa mengatur operasional perahu rakitan itu. Jadi yang bayar sewa hanya kendaraan saja, orangnya digratiskan,” pungkas Musda.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Sosial Daerah Morowali Utara Yospid mengemukakan hingga Selasa kemarin pihaknya belum menyalurkan bantuan bencana 14 desa di Mamosalao dan Bungku Utara.

Dia mengaku, keterlambatan itu diakibatkan lambatnya laporan dari masing-masing desa. Bahkan, laporan utuhnya baru masuk Selasa (13/6).

“Baru tadi saya terima laporan utuhnya dari masing-masing camat. Kita juga tidak bisa menyalurkan bantuan tanpa data-data yang jelas,” sebut Yospid.

Sebelumnya diberitakan, banjir bandang ini menerjang Desa Kalombang, Tirongan Atas, Tirongan Bawah, Tanakuraya, Baturube, Lemowalia dan Winangabino di wilayah kecamatan Bungku Utara.

Sementara di kecamatan Mamosalto banjir melanda Desa Tanasumpu, Tananagaya, Girimulya, Momo, Kolo Atas, Pandauke dan Tambale.

Akibatnya, 187 rumah dan 217 hektar lahan pertanian terendam dan memutuskan 3 jembatan di ruas jalan nasional. (Ilo)